JAMBI – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi memperkirakan populasi harimau Sumatra yang masih hidup di alam liar tersisa sekitar 300-an ekor.
Perkiraan tersebut disampaikan dalam peringatan Global Tiger Day 2026 di Kota Jambi pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kegiatan itu menjadi ruang kampanye untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan satwa liar dan habitat hutan.
BKSDA Jambi menyebut kondisi harimau Sumatra semakin tertekan akibat penyusutan dan fragmentasi habitat. Berkurangnya ketersediaan satwa mangsa juga meningkatkan kemungkinan harimau bergerak mendekati kebun, jalan, dan permukiman warga.
Perubahan tersebut dapat meningkatkan interaksi negatif antara harimau dan masyarakat. Konflik sering muncul ketika ruang hidup satwa terputus oleh pembukaan lahan, pembangunan infrastruktur, perburuan, atau aktivitas manusia lainnya.
Harimau Sumatra merupakan predator puncak dalam ekosistem hutan. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa herbivora sehingga keseimbangan vegetasi dan rantai makanan tetap terjaga.
Apabila populasi harimau terus menurun, jumlah beberapa satwa mangsa dapat meningkat tanpa pengendalian alami. Kondisi itu berpotensi memengaruhi regenerasi tumbuhan serta keseimbangan ekosistem hutan.
BKSDA memperkirakan populasi yang tersisa tersebar pada sejumlah kawasan hutan dari Aceh hingga Lampung. Angka tersebut merupakan perkiraan populasi, bukan hasil penghitungan seluruh individu secara langsung dalam waktu bersamaan.
Upaya konservasi membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pengelola kawasan, peneliti, organisasi lingkungan, perusahaan, dan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau.
Warga yang menemukan jejak, suara, atau kemunculan harimau diminta tidak memasang jerat dan tidak melakukan pengejaran sendiri. Informasi sebaiknya segera dilaporkan kepada BKSDA, pemerintah desa, atau aparat terkait agar penanganan dapat dilakukan oleh petugas terlatih.
Perlindungan habitat menjadi langkah utama untuk mengurangi konflik. Koridor antarkawasan hutan perlu dipertahankan agar harimau dan satwa mangsa dapat bergerak tanpa memasuki kawasan permukiman.







