JAKARTA – Banjir, angin kencang, dan kebakaran lahan terjadi di sejumlah wilayah Sumatra pada pertengahan Agustus 2026, memperlihatkan bahwa bencana hidrometeorologi basah tetap dapat muncul ketika musim kemarau sedang berlangsung.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat banjir terjadi di Kabupaten Aceh Barat Daya pada Kamis, 13 Agustus 2026. Data sementara menunjukkan sekitar 100 kepala keluarga dan 100 rumah terdampak.
Wilayah terdampak meliputi Gampong Le Mirah dan Pante Rakyat di Kecamatan Babahrot serta Gampong Tangan-Tangan Cut di Kecamatan Setia.
Hingga pendataan BNPB dilakukan, banjir belum sepenuhnya surut dan BPBD masih melakukan penanganan serta pendataan di lapangan.
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Angin kencang pada Selasa malam berdampak terhadap sekitar 43 kepala keluarga atau 170 jiwa.
Sebanyak tiga warga mengungsi. BNPB mencatat lima rumah rusak berat, 13 rusak sedang, dan 24 rumah mengalami kerusakan ringan.
Pada saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sekitar dua hektare lahan terdampak sebelum api berhasil dipadamkan.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan karakter risiko yang berbeda antarwilayah di Sumatra.
Kemarau meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan, tetapi tidak berarti hujan intensitas tinggi, banjir, atau angin kencang sepenuhnya berhenti.
BNPB menyebut kejadian hidrometeorologi kering masih mendominasi secara nasional. Namun, banjir dan cuaca ekstrem tetap dilaporkan di sejumlah daerah di tengah kondisi kemarau.
Situasi ini membuat pemantauan cuaca dan peringatan dini tetap penting, baik di wilayah rawan kebakaran maupun daerah yang memiliki risiko banjir dan angin kencang.
BNPB mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah daerah, BPBD dan BMKG, tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan air secara bijak, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi cuaca.






