BANDA ACEH – Dua atlet angkat besi remaja asal Aceh berhasil membawa pulang lima medali perunggu dari Kejuaraan Nasional Angkat Besi Remaja dan Junior 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Kedua atlet tersebut adalah Muhammad Ramadhani yang turun pada kelas 65 kilogram dan Rifqi Muammar pada kelas 60 kilogram. Mereka menjadi bagian dari kontingen Aceh yang mengikuti kejuaraan untuk mengukur kemampuan atlet muda di tingkat nasional.
Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia Aceh, Efendi Eria, menyatakan bahwa prestasi tersebut diraih di tengah persaingan yang ketat.
Rifqi Muammar memperoleh dua medali perunggu. Kejuaraan tersebut menjadi penampilan perdananya pada tingkat nasional. Muhammad Ramadhani meraih tiga medali perunggu dari nomor angkatan yang dipertandingkan.
Selain Ramadhani dan Rifqi, Aceh mengirim sejumlah atlet lain. Mereka antara lain Muhammad Hafis di kelas 55 kilogram putra kategori remaja, Nurfianti Ramadini di kelas 49 kilogram putri kategori junior, serta Nisma Safrina dan M Fajri Assidiqi pada kelas berat.
PABSI Aceh menilai hasil tersebut sebagai modal penting bagi pengembangan atlet usia muda. Pengalaman menghadapi lawan dari berbagai provinsi membantu atlet memahami standar kompetisi nasional dan aspek yang masih perlu ditingkatkan.
Pembinaan atlet angkat besi membutuhkan proses jangka panjang. Selain program latihan kekuatan dan teknik, atlet memerlukan pengawasan kondisi fisik, pemenuhan nutrisi, pengaturan berat badan, pemulihan, dan dukungan psikologis.
Kompetisi nasional juga menjadi bagian dari proses pemetaan atlet. Hasil pertandingan dapat digunakan pelatih untuk mengevaluasi kemampuan pada nomor snatch serta clean and jerk, termasuk konsistensi saat melakukan percobaan angkatan.
PABSI Aceh berharap atlet remaja dapat mengikuti jejak lifter senior Aceh yang telah tampil pada kompetisi tingkat nasional dan internasional. Namun, peningkatan prestasi membutuhkan kompetisi yang rutin dan fasilitas latihan yang memadai.
Pemerintah daerah dan pengurus olahraga perlu memastikan pembinaan tidak berhenti setelah kejuaraan. Atlet potensial memerlukan jadwal latihan yang terukur, pelatih berkualitas, pemeriksaan kesehatan, dan kesempatan mengikuti pemusatan latihan.
Prestasi lima medali perunggu menunjukkan bahwa Aceh memiliki bibit atlet angkat besi yang mampu bersaing. Hasil tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi atlet muda lain untuk menekuni olahraga secara disiplin.
Target berikutnya adalah meningkatkan hasil angkatan dan memperbaiki posisi pada kejuaraan mendatang. Evaluasi teknik, kondisi fisik, serta pengalaman bertanding akan menentukan perkembangan Muhammad Ramadhani, Rifqi Muammar, dan atlet muda Aceh lainnya.







