PIDIE – Kementerian Kelautan dan Perikanan menjalankan program rehabilitasi terhadap 90 unit dapur produksi garam di Kabupaten Pidie, Aceh.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, kualitas hasil, dan manfaat ekonomi yang diterima kelompok usaha garam rakyat.
Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha Donny Oktapura, meninjau lahan produksi dan sejumlah dapur garam yang dikelola masyarakat di Kabupaten Pidie pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Sebanyak 90 dapur garam yang akan direhabilitasi tersebar di Kecamatan Kembang Tanjong, Kecamatan Simpang Tiga, dan kawasan Kota Sigli.
Rehabilitasi dilakukan sebagai bagian dari dukungan pemerintah terhadap pengembangan usaha garam rakyat. Perbaikan sarana produksi diharapkan dapat membantu petani menghasilkan garam dengan proses yang lebih efektif dan kualitas yang lebih terjaga.
Selain memperbaiki dapur produksi, KKP menyalurkan satu unit brine refinery system kepada Kelompok Baro Hudep di Desa Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengolah dan memurnikan air tua yang tersisa dari proses produksi garam. Air hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai air tawar yang aman atau dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi.
KKP juga menyalurkan 180 unit tunnel garam berbahan geomembran kepada sembilan kelompok usaha. Bantuan tersebut diarahkan untuk kelompok yang berada di Desa Cebrek, Desa Peukan Sot, dan Gampong Ara.
Tunnel geomembran dapat membantu melindungi proses produksi dari perubahan cuaca dan mengurangi kontak garam dengan permukaan tanah. Penggunaan sarana tersebut juga memungkinkan proses penguapan berlangsung dalam ruang yang lebih terkendali.
Program lainnya berupa pembangunan saluran produksi garam sepanjang 2.150 meter. Infrastruktur tersebut berada di kawasan Gampong Ara, Desa Pasi Ie Leubeue, dan Desa Keude Ie Leubeue.
Satu unit gudang garam rakyat juga dibangun di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga. Pemerintah merencanakan program pengembangan garam di Pidie berlanjut pada 2027.
Menurut data yang disampaikan KKP, Kabupaten Pidie menghasilkan sekitar 5,7 juta kilogram garam pada 2025. Jumlah tersebut disebut mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan garam di Provinsi Aceh.
Data tersebut menunjukkan peran penting Pidie dalam rantai pasokan garam Aceh. Peningkatan produksi di tingkat petani berpotensi mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, sepanjang kualitas, distribusi, dan harga jual juga dapat dijaga.
KKP mendorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh perikanan, dan kelompok petani. Sinergi tersebut dibutuhkan agar bantuan sarana dapat digunakan secara berkelanjutan serta memberikan peningkatan pendapatan bagi masyarakat pesisir.







