NAGAN RAYA – Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera mengerahkan satu regu Manggala Agni untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Desa Kayee Unoe, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Regu yang beranggotakan 15 personel itu bergabung dengan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nagan Raya serta kepolisian setempat.
Dalam laporan yang disampaikan Jumat, 17 Juli 2026, Balai Dalkarhut memperkirakan area yang ditangani mencapai sekitar 30 hektare. Lokasinya merupakan lahan gambut berstatus hak guna usaha dengan vegetasi berupa semak belukar, tanaman pakis, anakan kayu, dan sawit.
Karakter kebakaran yang ditemukan bukan hanya berada di permukaan. Api juga merambat pada lapisan bawah gambut sehingga proses pemadaman membutuhkan pembasahan berulang. Kondisi ini menyebabkan lahan yang terlihat tidak lagi mengeluarkan api masih berpotensi menyimpan bara dan kembali berasap ketika permukaannya mengering.
Tim menggunakan air dari kanal di sekitar lokasi. Akses dari posko di kawasan Seumanyam menuju titik pemadaman membutuhkan waktu sekitar satu jam 30 menit. Pada saat operasi berlangsung, cuaca dilaporkan berawan pada pagi dan sore, sedangkan siang hari cenderung cerah. Kecepatan angin di area kebakaran mencapai sekitar 10 kilometer per jam.
Jarak menuju lokasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan personel, peralatan, bahan bakar, dan logistik. Selain memadamkan bagian yang masih terbakar, tim perlu memastikan batas area terdampak serta memeriksa kembali titik-titik yang sebelumnya telah dibasahi.
Angka 30 hektare dalam laporan tersebut merujuk pada area yang ditangani berdasarkan pendataan Balai Dalkarhut. Luas kebakaran dapat berubah setelah pemeriksaan lapangan dilakukan bersama seluruh instansi. Karena itu, angka dari laporan berbeda sebaiknya tidak langsung dijumlahkan sebelum ada konsolidasi data resmi.
Keterangan yang dipublikasikan belum menjelaskan penyebab kebakaran. Informasi mengenai sumber api perlu menunggu pemeriksaan pihak berwenang. Spekulasi mengenai pelaku atau penyebab pembakaran harus dihindari sampai tersedia hasil penyelidikan.
Kebakaran gambut memerlukan penanganan lebih panjang dibandingkan kebakaran semak biasa. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan muncul kembali ketika angin menguat. Pengawasan setelah pemadaman karena itu menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran berulang.
Masyarakat di sekitar perkebunan juga perlu segera melaporkan kepulan asap atau bau terbakar kepada aparat desa dan petugas penanggulangan bencana. Pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari, terutama saat vegetasi mengering dan sumber air sulit dijangkau.
Perkembangan kondisi setelah laporan 17 Juli masih memerlukan pembaruan resmi. Data luas akhir, keberhasilan pendinginan, penyebab kebakaran, serta dampak terhadap permukiman sebaiknya dikonfirmasi kembali sebelum artikel diperbarui.






