Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Satgas PRR Data Kerusakan Pascabencana di Padang Pariaman, Sejumlah Jalan Masih Terputus

Satgas PRR mendata kerusakan infrastruktur pascabencana di Padang Pariaman. Sejumlah jalan masih rusak dan mengganggu akses masyarakat.

Pascabencana Padang Pariaman
Pascabencana Padang Pariaman

PADANG PARIAMAN – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera melakukan pendataan langsung terhadap kerusakan infrastruktur di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Pendataan dilakukan untuk memperoleh kondisi aktual infrastruktur yang terdampak bencana sekaligus menjadi bahan penanganan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Tim menemukan sejumlah titik jalan yang mengalami kerusakan dan masih berdampak terhadap mobilitas masyarakat.

Satgas mencatat lima titik strategis yang membutuhkan perhatian. Empat di antaranya berada pada ruas Batu Basa–Batas Sungai Pingai, sementara satu titik lainnya berada di Kelok Dama, Kudu Ganting.

Baca Juga:  Progres Tol 73,84% di Palembang–Betung

Salah satu ruas jalan diketahui terputus setelah terdampak bencana pada November 2025. Warga hingga saat ini menggunakan akses alternatif berupa jalan tanah dengan jarak memutar sekitar 100 meter.

Kerusakan juga ditemukan di Durian Taba, Korong Sungai Pingai. Lokasi tersebut sebelumnya terdampak bencana pada November 2025 dan kembali mengalami gerusan saat banjir pada 3 Agustus 2026. Kondisi itu menyebabkan lebar badan jalan berkurang sekitar separuh sehingga dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran lalu lintas.

Baca Juga:  MOLA BKN: ASN Riau–Kepri–Sumbar Pantau Layanan

Pada titik lain di Simpang Tiga Padang Gantiang Sungai Pingai, sebagian badan jalan hilang akibat longsor pada 3 Agustus 2026.

Tim juga menemukan jalan terputus pada salah satu ruas yang menghubungkan Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam. Kerusakan akses ini tidak hanya berpengaruh terhadap transportasi, tetapi juga aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan masyarakat sekitar. Satgas memperkirakan sekitar 1.000 warga terdampak oleh gangguan akses tersebut.

Baca Juga:  Sebanyak 920 Sekolah di Sumatera Barat Dapat Program Revitalisasi pada 2026

Kondisi lapangan menunjukkan sebagian pelajar harus melintasi sungai untuk beraktivitas. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya percepatan penanganan infrastruktur penghubung di wilayah terdampak.

Satgas PRR Pascabencana Sumatera merupakan tim yang melibatkan unsur TNI, Polri, BNPB, Kementerian Pekerjaan Umum, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Temuan dari Padang Pariaman selanjutnya akan dibawa ke tingkat pusat untuk menjadi bahan penyusunan langkah penanganan. Proses ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan konektivitas serta pelayanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *