TAPANULI SELATAN – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan mendorong hasil riset ilmiah mengenai bentang alam Batang Toru menjadi salah satu dasar dalam memperkuat perlindungan ekosistem dan pengurangan risiko bencana di wilayah tersebut.
Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menyampaikan dukungan terhadap kegiatan riset dan diseminasi ilmiah yang melibatkan Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Sumatera Utara, Universitas Indonesia, serta Institute for Sustainable Earth and Resources Universitas Indonesia.
Kegiatan tersebut membahas bentang alam Batang Toru serta pengembangan wilayah setelah bencana besar yang terjadi pada 2025. Pemerintah daerah menilai rekomendasi berbasis penelitian diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Perhatian terhadap Batang Toru semakin besar setelah banjir bandang dan longsor pada 25 November 2025. Bencana tersebut memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan sektor pertanian Tapanuli Selatan.
Menurut data yang disampaikan pemerintah daerah dalam forum tersebut, pertumbuhan ekonomi Tapsel yang sebelumnya berada di atas 5 persen turun menjadi sekitar 2,4 persen pada triwulan terakhir 2025.
Sektor pertanian menjadi salah satu sektor paling terdampak. Sektor ini memiliki kontribusi sekitar 44 persen terhadap produk domestik regional bruto Tapanuli Selatan. Lebih dari 3.200 hektare lahan sawah disebut mengalami kerusakan, gagal panen, maupun persoalan hasil pertanian setelah bencana.
Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Tapanuli Selatan dilaporkan meningkat menjadi sekitar 3,9 persen, meski masih berada di bawah kondisi sebelum bencana.
Kajian terhadap peristiwa di kawasan Batang Toru menunjukkan bencana terjadi dalam konteks hujan ekstrem dan dipengaruhi faktor bentang alam, kondisi geologi, dinamika daerah aliran sungai, perubahan saluran sungai, serta karakter sedimen.
Aspek ekologis Batang Toru juga menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan habitat penting orangutan tapanuli. Penelitian ilmiah yang terbit pada 2026 menunjukkan hujan ekstrem dan longsor November 2025 memberikan tekanan besar terhadap hutan di Blok Barat Ekosistem Batang Toru. Temuan tersebut menegaskan pentingnya perlindungan habitat yang mempertimbangkan risiko iklim dan bencana.
Dengan kondisi tersebut, hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat digunakan untuk mendukung kebijakan tata ruang, pengelolaan lingkungan, pemulihan ekonomi, dan mitigasi bencana di Tapanuli Selatan.






