Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Hotspot Sumsel Turun dari 1.142 Menjadi 287, Kualitas Udara Sejumlah Daerah Masih Tidak Sehat

Hotspot Sumsel turun dari 1.142 menjadi 287 titik setelah hujan, tetapi kualitas udara di Palembang dan sejumlah daerah masih tidak sehat.

Hotspot Sumsel
Hotspot Sumsel

PALEMBANG — Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan turun tajam setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah. Data pemantauan pada Sabtu, 29 Agustus 2026 mencatat 287 hotspot, turun dari 1.142 titik yang terdeteksi sehari sebelumnya.

Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif di tengah musim kemarau, tetapi belum menandakan risiko karhutla telah berakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan menyatakan hujan belum turun merata dan beberapa kawasan masih memiliki potensi kebakaran tinggi.

Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak pada Sabtu, yakni 101 titik. Sejumlah lokasi yang masih menjadi fokus penanganan berada di Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Tanjung Lubuk, dan Cengal. Penanganan juga dilakukan di Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, serta Banyuasin.

BPBD mencatat sekitar 2.001 kejadian karhutla di Sumatera Selatan sejak 1 Januari hingga 28 Agustus 2026. Indikasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.926 hektare. Dari sisi jumlah kejadian, Ogan Komering Ilir tercatat paling banyak dengan 354 kejadian, disusul Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Muara Enim.

Baca Juga:  Sumsel Peringatan Dini Cuaca: Hujan Lebat Dini Hari–Pagi, Cek Drainase Lingkungan

Di tengah penurunan hotspot, persoalan kualitas udara belum sepenuhnya membaik. Data Indeks Standar Pencemar Udara pada Sabtu pagi menunjukkan Palembang berada pada angka 159, Musi Rawas 160, dan Penukal Abab Lematang Ilir 174. Ketiganya masuk kategori tidak sehat.

Daerah lain juga menunjukkan kualitas udara yang perlu diperhatikan. Prabumulih tercatat pada angka 148, Ogan Ilir 130, Musi Banyuasin 118, dan Lahat 111. Kabut asap masih terdeteksi di berbagai bagian Sumatera Selatan meskipun hujan mulai membantu menekan kemunculan titik panas.

Kondisi tersebut berarti warga tetap perlu berhati-hati, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan. Aktivitas luar ruang yang tidak mendesak dapat dikurangi ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai dan menjaga kualitas udara di dalam ruangan juga dapat menjadi langkah perlindungan.

Baca Juga:  Gerai Ke-36 PT AHI Hadir di Plaju Palembang, Sediakan Solusi Lengkap Kebutuhan Rumah Tangga

Pemerintah daerah masih menjalankan patroli darat dan udara, pemadaman di lokasi, water bombing menggunakan helikopter, pemantauan hotspot, serta sosialisasi pencegahan kebakaran. Upaya tersebut penting karena lahan gambut dan vegetasi kering dapat kembali terbakar apabila hujan tidak berlanjut.

BMKG sebelumnya juga menyatakan musim kemarau masih mendominasi sebagian besar Indonesia. Pada 30 Agustus, Sumatera Selatan termasuk provinsi yang berstatus waspada hujan sedang hingga lebat. Hujan dapat membantu penanganan karhutla, tetapi sifatnya yang lokal membuat kondisi antarwilayah dapat berbeda.

Perubahan dari lebih dari seribu hotspot menjadi 287 titik dalam sehari menunjukkan dampak positif hujan, tetapi ukuran keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh jumlah titik panas. Luas area terbakar, kondisi gambut, kualitas udara, serta potensi munculnya api baru tetap perlu dipantau.

Baca Juga:  Karhutla OKI Hari Ketiga, Water Bombing Terus Dikerahkan

Masyarakat di Sumatera Selatan diminta tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran lahan. Informasi kualitas udara juga sebaiknya diperiksa secara berkala, khususnya sebelum melakukan aktivitas luar ruang dalam durasi panjang.

Titik panas sendiri merupakan indikator anomali suhu yang terdeteksi satelit dan masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kejadian kebakaran. Karena itu, penurunan jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan hilangnya seluruh sumber asap.

Api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi kembali kering.

Dampak karhutla juga tidak berhenti pada lokasi kebakaran. Asap dapat mengganggu transportasi, aktivitas sekolah, pekerjaan luar ruang, dan layanan kesehatan ketika konsentrasinya meningkat. Situasi di Sumatera Selatan menjadi bagian dari persoalan kabut asap yang dalam beberapa hari terakhir juga memengaruhi wilayah lain di Sumatra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *