DEPOK – Sebanyak 1.121 siswa mengikuti tingkat nasional Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Menengah 2026 setelah melewati seleksi berjenjang dari tingkat sekolah, kabupaten atau kota, hingga provinsi. Mereka disaring dari 9.942 peserta yang mengikuti rangkaian seleksi di seluruh Indonesia.
Kompetisi tingkat nasional berlangsung pada 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 dan diselenggarakan secara hibrida. Para finalis berkompetisi dalam 37 cabang serta satu cabang eksibisi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence.
Jumlah peserta tingkat nasional setara sekitar 11,3 persen dari keseluruhan peserta seleksi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut mereka yang mencapai tahap ini telah menjadi pemenang di tingkat provinsi masing-masing.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan LKS tidak hanya ditujukan untuk menentukan peraih medali. Ajang itu juga menjadi pengalaman belajar, ruang membangun jejaring, memperluas wawasan, meningkatkan disiplin, dan membentuk karakter profesional peserta.
Sejumlah finalis menempuh persiapan dalam kondisi yang tidak mudah. Stefaris Woge, siswa kelas XI SMK Negeri 3 Nabire, Papua Tengah, misalnya, setiap hari berjalan kaki sekitar satu jam menuju sekolah. Kerusakan telepon genggam sempat menghambat komunikasi persiapannya sebelum keluarga memperbaiki perangkat tersebut agar ia dapat mengikuti seluruh proses.
Peserta lain, Natanael dari Palu, Sulawesi Tengah, menghentikan sementara praktik kerja lapangan selama mempersiapkan diri pada cabang Teknik Alat Berat. Marvel Anugerah dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan, juga menghentikan sementara kegiatan praktik untuk mengikuti pelatihan intensif menuju kompetisi nasional.
Kepala Pusat Prestasi Nasional Maria Veronica Irene Herdjiono meminta peserta menjadikan LKS sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan pembuktian kemampuan talenta vokasi Indonesia. Dukungan guru, sekolah, keluarga, serta dunia industri dinilai menjadi bagian penting dari perjalanan peserta hingga tingkat nasional.
Masuknya kecerdasan artifisial sebagai cabang eksibisi menunjukkan penyesuaian kompetisi terhadap perkembangan teknologi. Namun, statusnya masih berupa eksibisi. Keterangan resmi belum menjelaskan kriteria penilaian, jumlah peserta khusus cabang AI, ataupun kemungkinan menjadikannya cabang kompetisi penuh pada penyelenggaraan berikutnya.
Siaran resmi juga belum memerinci jumlah finalis dari setiap provinsi, termasuk Aceh dan wilayah Sumatra lainnya. Data tersebut dibutuhkan untuk melihat pemerataan partisipasi, bidang keahlian yang diunggulkan masing-masing daerah, dan kebutuhan pembinaan setelah kompetisi.
LKS 2026 menjadi salah satu sarana mengukur keterampilan peserta didik pendidikan menengah, khususnya pendidikan vokasi. Dampak jangka panjangnya akan ditentukan oleh tindak lanjut setelah lomba, seperti sertifikasi kompetensi, kesempatan magang, keterhubungan dengan industri, dan dukungan pengembangan keterampilan peserta di daerah asal.







