MEULABOH – Masyarakat kawasan barat-selatan Aceh kini memiliki akses lebih dekat terhadap layanan kateterisasi jantung setelah Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh kembali mengoperasikan fasilitas catheterization laboratory atau cathlab yang tidak berfungsi sejak 2018.
Pengoperasian perdana dilakukan Minggu, 16 Agustus 2026. Dua pasien menjalani tindakan kateterisasi dengan dukungan tim dokter spesialis serta Wakil Direktur RSUP H Adam Malik Medan. Secara administratif, layanan tersebut dijadwalkan mulai beroperasi resmi pada Senin, 17 Agustus 2026.
Bupati Aceh Barat Tarmizi mengatakan pengaktifan kembali cathlab bertujuan memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan jantung tanpa harus selalu dirujuk ke rumah sakit di Banda Aceh.
Fasilitas tersebut sebelumnya tidak beroperasi selama sekitar delapan tahun. Pemerintah daerah kemudian melakukan perbaikan alat bersama pihak penyedia hingga peralatan dinyatakan dapat kembali digunakan.
Keberadaan layanan ini penting bagi masyarakat di wilayah barat-selatan Aceh. Selama ini sekitar 80 persen pasien jantung yang membutuhkan penanganan lanjutan dari Aceh Barat harus dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh.
Rujukan ke Banda Aceh tidak hanya memperpanjang perjalanan pasien, tetapi juga dapat menambah kebutuhan transportasi dan akomodasi keluarga. Dari Meulaboh menuju Banda Aceh, pasien dari kawasan barat Aceh harus melakukan perjalanan antarkabupaten sebelum memperoleh pelayanan lanjutan.
Karena itu, pengoperasian cathlab di Meulaboh berpotensi memperpendek rantai pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh Barat dan kabupaten di sekitarnya. Meski demikian, keberlanjutan layanan juga bergantung pada ketersediaan tenaga medis, pemeliharaan peralatan, serta sistem pembiayaan pasien.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat saat ini sedang memproses kerja sama pelayanan tersebut dengan BPJS Kesehatan. Penyelesaian administrasi ditargetkan pada Oktober 2026 agar pembiayaan pelayanan bagi pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional dapat lebih terintegrasi.
Aktifnya kembali fasilitas yang sudah tersedia sejak sebelumnya juga menjadi catatan penting mengenai pemanfaatan investasi alat kesehatan daerah. Peralatan medis berbiaya tinggi membutuhkan dukungan sumber daya manusia, pemeliharaan rutin dan tata kelola agar dapat memberikan pelayanan secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat, beroperasinya cathlab di Meulaboh diharapkan tidak sekadar menjadi pengaktifan kembali sebuah fasilitas, tetapi benar-benar memperluas akses pelayanan jantung bagi kawasan barat-selatan Aceh.






