Oleh: Lia Fitria Rahmatillah (Dosen Teknik Geologi, USK)
OPINI – Kecamatan Pango Deah di Kota Banda Aceh terkenal dengan julukan desa produksi kerajinan Aceh, sehingga kreatifitas sumberdaya manusia di desa ini tidak diragukan lagi. Wilayah Pango Deah memiliki sigergisitas antara potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang baik untuk dikembangkan dalam sektor ekonomi kreatif.
Masyarakat di wilayah ini sebagian besar bergantung pada sektor informal dan usaha skala rumah tangga sebagai sumber penghasilan tambahan. Namun, pemanfaatan potensi lokal yang bernilai ekonomi tinggi masih belum optimal, khususnya dalam pengolahan bahan baku alami menjadi produk bernilai jual. Salah satu komoditas unggulan Aceh adalah minyak nilam yang dikenal sebagai salah satu minyak atsiri terbaik di dunia dan banyak digunakan dalam industri parfum, kosmetik, serta produk perawatan tubuh.
Minyak nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu minyak atsiri unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar global yang stabil. Aceh dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak nilam berkualitas terbaik di dunia dengan kandungan patchouli alcohol yang tinggi, yang menjadi komponen utama penentu kualitas aroma minyak nilam (Biodiversity Warriors, 2023).
Sebagai komoditas ekspor utama dalam sektor minyak atsiri, minyak nilam sering disebut sebagai “emas hijau Aceh” karena kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat lokal. Namun, sebagian besar hasil produksi masih dijual dalam bentuk bahan mentah tanpa melalui proses pengolahan lanjutan yang dapat meningkatkan nilai jual produk (Balai Besar POM Aceh, 2025). Oleh karena itu, pengembangan produk turunan minyak nilam menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi kreatif.
Selain itu, Aceh merupakan salah satu produsen utama minyak nilam di Indonesia, namun sebagian besar masyarakat hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah tanpa melakukan proses hilirisasi produk. Minyak nilam memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah, salah satunya adalah sabun herbal berbasis minyak nilam.
Produk sabun alami saat ini memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan produk ramah lingkungan dan berbahan alami. Namun, keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai teknik produksi, formulasi, serta pengemasan produk yang menarik dan higienis menjadi hambatan dalam pengembangan usaha tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa sabun berbasis minyak atsiri dapat diproduksi dengan metode sederhana namun tetap memenuhi standar mutu tertentu apabila dilakukan dengan formulasi yang tepat. Selain memberikan nilai fungsional, penggunaan minyak nilam sebagai bahan tambahan juga meningkatkan daya tarik produk di pasar kosmetik alami (Salim et al., 2022).
Secara teknis, proses produksi sabun relatif mudah dipelajari oleh masyarakat melalui pelatihan berbasis praktik, sehingga cocok diterapkan sebagai teknologi tepat guna dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ekonomi kreatif merupakan konsep pembangunan ekonomi yang mengandalkan kreativitas, inovasi, serta pemanfaatan sumber daya lokal untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, pelatihan keterampilan produksi produk olahan berbasis potensi lokal terbukti mampu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat dan membuka peluang ekonomi baru (Ariani et al., 2024).
Program pelatihan produksi sabun alami dari minyak atsiri yang telah dilakukan di berbagai daerah menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan keterampilan teknis masyarakat, pemahaman nilai ekonomi produk, serta semangat kewirausahaan lokal (Ariani et al., 2024). Pendekatan ini relevan diterapkan di wilayah yang memiliki potensi bahan baku minyak atsiri seperti Pango Deah, Banda Aceh.
Pengembangan produk turunan minyak nilam di Aceh telah dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti parfum, sabun herbal, minyak aromaterapi, dan produk perawatan tubuh lainnya. Produk-produk ini mulai dipasarkan secara lokal dan menunjukkan potensi sebagai komoditas ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.
Upaya peningkatan nilai tambah minyak nilam melalui diversifikasi produk juga dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap penjualan bahan mentah (Retnowati & Poerwadi, 2020).
Namun, keberhasilan pengembangan produk turunan sangat dipengaruhi oleh kemampuan produksi, kualitas kemasan, serta pemahaman pemasaran. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan produksi dan pengemasan sabun minyak nilam menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong hilirisasi produk nilam di tingkat masyarakat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Program Peningkatan Ekonomi Kreatif Melalui Pelatihan Produksi dan Pengemasan Sabun Minyak Nilam” yang dilaksanakan di Kantor Keuchik Pango Deah, Banda Aceh, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai potensi minyak nilai sebagai bahan baku lolal yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat diolah menjadi produk turunan bernilai tambah, memberikan keterampilan teknis dalam produksi sabun minyak nilam, dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pengemasan produk secara menarik dan higienis.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk memperkenalkan maksud dan tujuan kegiatan, serta manfaat yang diperoleh oleh peserta. Selanjutnya, dilakukan pelatihan produksi sabun minyak nilam yang melibatkan peserta secara langsung dalam setiap tahapan proses pembuatan sabun, mulai dari persiapan bahan, pencampuran, proses saponifikasi, hingga pencetakan sabun.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi praktik. Produk sabun minyak nilam yang dihasilkan memiliki aroma khas, bentuk yang baik, serta tampilan yang layak untuk digunakan maupun dipasarkan secara sederhana.
Setelah proses produksi selesai, peserta juga dilatih dalam teknik pengemasan produk yang menarik dan higienis. Melalui kegiatan lapangan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai potensi ekonomi produk sabun berbasis minyak nilam sebagai bagian dari ekonomi kreatif lokal.
Kegiatan pelatihan ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan minyak nilam sebagai bahan baku produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah. Peserta tidak hanya memahami potensi minyak nilam sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga mampu menghasilkan produk sabun minyak nilam dengan kualitas yang layak digunakan dan dipasarkan secara sederhana.
Secara keseluruhan, program pengabdian ini memberikan dampak positif dalam mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal serta membuka peluang pengembangan usaha kecil berbasis produk sabun alami di lingkungan masyarakat Desa Pango Deah.






