Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Pusat Bangun Dua Sekolah Rusak di Nagan Raya

Keputusan pemerintah pusat berdampak langsung bagi 220 siswa yang masih belajar darurat

Ilustrasi sekolah rusak Nagan Raya (Raiza Azkaril)
Ilustrasi sekolah rusak Nagan Raya (Raiza Azkaril)

NAGAN RAYA, Minggu, 5 April 2026, 09.30 WIB — Pemerintah pusat dipastikan membangun kembali dua sekolah yang rusak akibat bencana di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Kepastian ini penting bagi 220 siswa SD dan SMP yang hingga kini masih menjalani pembelajaran di fasilitas darurat pascabanjir bandang.

Informasi tersebut disampaikan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya setelah menerima kunjungan tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk survei lokasi dan pendataan. ANTARA Aceh melaporkan dua sekolah yang akan dibangun kembali adalah SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang dan SMP Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang, sementara pemda menyiapkan lokasi serta administrasi tanah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, mengatakan, “Insya Allah, jika tidak ada halangan, tahun 2026 ini dua sekolah yang rusak akibat bencana hidrometerologi tahun lalu akan dibangun pemerintah pusat.” Pernyataan itu menegaskan bahwa isu pendidikan pascabencana di Nagan Raya kini sudah masuk tahap persiapan realisasi, bukan lagi sekadar usulan.

Baca Juga:  Polresta Banda Aceh Tangkap Lima Pelaku Judi Online

Dampak lokalnya sangat jelas. Saat ini 220 siswa masih belajar di sekolah atau tenda darurat. Rinciannya, 97 siswa di SMP Negeri Beutong Ateuh dan 123 siswa di SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang. RRI juga melaporkan proses belajar tetap dipertahankan agar pendidikan tidak terhenti, meski ruang belajar permanen belum tersedia.

Bagi warga Nagan Raya, terutama keluarga siswa dan guru, pembangunan dua sekolah ini bukan hanya soal bangunan fisik. Ini berkaitan dengan kepastian proses belajar, rasa aman anak-anak, serta pengurangan beban psikologis setelah berbulan-bulan berada di lingkungan pembelajaran sementara. RRI mencatat pula adanya pendampingan psikologis atau trauma healing bagi siswa pascabencana.

Baca Juga:  Ratusan Nakes di Pidie Gagal Mendaftar PPPK

Konteks nasionalnya, keputusan pusat untuk turun langsung membangun dua sekolah di kabupaten terdampak menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan menjadi bagian penting dari rehabilitasi pascabencana. Untuk Aceh, sudut pandang lokalnya jelas: kebijakan pusat baru terasa manfaatnya ketika ruang kelas di Nagan Raya benar-benar kembali berdiri dan anak-anak tidak lagi belajar di tempat darurat.

Baca Juga:  Banjir Susulan Rendam 10 Kecamatan di Aceh Timur, 5.032 Jiwa Terdampak

Langkah berikutnya yang perlu dipantau adalah penyelesaian administrasi lahan, jadwal pembangunan, dan transisi siswa dari sekolah darurat ke bangunan permanen. Selama pekerjaan fisik belum dimulai, kebutuhan sarana belajar sementara, perlindungan siswa, dan dukungan psikososial tetap menjadi agenda mendesak di Beutong Ateuh Banggalang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *