Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Longsor Sembahe, Lima Warga Deli Serdang Tewas

Enam rumah rusak berat, satu korban selamat masih dirawat

Ilustrasi longsor (Septimiu Lupea)
Ilustrasi longsor (Septimiu Lupea)

DELI SERDANG, Kamis, 9 April 2026, 16.30 WIB — Longsor di Dusun III Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, menewaskan lima warga, merusak sedikitnya enam rumah, dan memicu penanganan darurat pemerintah daerah di kawasan rawan lereng jalur Medan-Berastagi.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena Sembahe merupakan jalur penting bagi mobilitas warga dan distribusi barang menuju kawasan dataran tinggi. Pemerintah Kabupaten Deli Serdang turun ke lokasi pada Rabu, 8 April 2026, untuk memastikan evakuasi, kebutuhan dasar korban, dan penanganan keluarga terdampak berjalan.

Data BPBD Sumatera Utara menyebut lima korban meninggal ditemukan pada Rabu pagi sekitar pukul 06.20 WIB. Longsor juga menyebabkan sedikitnya enam rumah mengalami rusak berat. Pemerintah daerah masih memusatkan perhatian pada keselamatan warga sekitar, mengingat kawasan itu dikenal rawan longsor saat hujan lebat.

Baca Juga:  Lumpuh 10 Jam Akibat Longsor, Jalur Sumbar–Riau via Kelok 9 Kembali Normal

Sri Wahyuni Pancasilawati, Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, menyatakan korban ditemukan pada pagi hari setelah material longsor menimpa permukiman warga. Pemerintah daerah juga mencatat satu korban selamat masih membutuhkan penanganan medis.

Bagi warga, dampaknya tidak hanya kehilangan anggota keluarga dan kerusakan rumah, tetapi juga munculnya rasa waswas terhadap keselamatan permukiman di sekitar lereng. Jalur Sembahe selama ini juga menjadi titik yang kerap dipantau saat curah hujan tinggi, sehingga kejadian terbaru memperkuat desakan perlunya mitigasi permanen di titik rawan.

Baca Juga:  Lion Group Pindah ke Terminal 4 Changi 11 Nov

Dalam konteks yang lebih luas, kawasan Sembahe-Sibolangit sudah beberapa kali menjadi fokus penanganan bencana lereng dan lalu lintas sejak 2024. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebelumnya juga menyoroti kebutuhan tembok penahan longsor dan pengamanan jalur di area tersebut.

Langkah berikutnya adalah asesmen lanjutan terhadap rumah terdampak, penyaluran bantuan dasar, serta evaluasi keamanan lereng di sekitar permukiman. Warga yang tinggal dekat tebing atau aliran lereng diminta meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras dan segera melapor ke aparat desa atau BPBD jika muncul retakan tanah, suara gemuruh, atau aliran air keruh dari tebing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *