KARO — Aktivitas erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih berlanjut setelah statusnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga. Sebanyak 615 warga dari Desa Kuta Tengah telah berada di lokasi pengungsian, sementara sebaran abu vulkanik memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat erupsi pada Rabu, 2 September 2026, sekitar pukul 07.20 WIB. Kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 3.460 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal bergerak ke arah timur dan tenggara.
Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum dua milimeter dan durasi sekitar 30 menit. PVMBG menyebut aktivitas masih ditandai keluarnya abu secara terus-menerus serta gempa tremor. Pemantauan visual dan instrumental tetap dilakukan untuk melihat perkembangan berikutnya.
Aktivitas terbaru merupakan kelanjutan dari erupsi pada Senin, 31 Agustus 2026, yang menghasilkan kolom abu sekitar 3.500 meter di atas puncak. Setelah peningkatan aktivitas tersebut, status Sinabung dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.
Tinggi kolom abu pada satu kejadian tidak dapat digunakan sendiri untuk menyimpulkan bahwa ancaman telah berakhir. Meskipun kolom pada 2 September lebih rendah dibandingkan erupsi 31 Agustus, status gunung tetap Level III dan rekomendasi zona bahaya masih berlaku. Masyarakat perlu mengikuti evaluasi resmi, bukan menilai keamanan hanya dari tampilan gunung pada suatu waktu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan sekitar 211 keluarga atau 615 jiwa dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, mengungsi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti hasil pendataan di lapangan.
Kabupaten Karo juga masih berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan bencana erupsi Sinabung selama 90 hari, terhitung 8 Juli hingga 5 Oktober 2026. Status penanganan tersebut menjadi kerangka bagi pemerintah daerah untuk melanjutkan pemantauan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta langkah kesiapsiagaan ketika aktivitas gunung berubah.
Warga Desa Payung, Kecamatan Payung, dilaporkan masih berada di rumah masing-masing dalam kondisi bersiaga. BPBD Kabupaten Karo bersama unsur terkait mengarahkan masyarakat keluar dari zona bahaya dan membagikan masker di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Kebutuhan di pengungsian tidak hanya berupa tempat berlindung dan makanan. Air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, masker, informasi yang konsisten, serta akses anak-anak ke sekolah juga perlu dijaga selama warga belum dapat kembali. Pemerintah provinsi menyatakan kebutuhan dasar pengungsi menjadi prioritas dalam tahap awal penanganan.
Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi serta di dalam radius tiga kilometer dari puncak. Larangan juga berlaku pada radius sektoral enam kilometer ke arah selatan–timur. Warga yang tinggal di sekitar sungai berhulu di Sinabung perlu mewaspadai potensi lahar, terutama ketika terjadi hujan.
Dampak erupsi juga terasa pada transportasi udara. Pengelola Bandara Kualanamu menyatakan 21 penerbangan dari dan menuju bandara tersebut dibatalkan berdasarkan data sementara yang diumumkan pada 2 September. Penerbangan lain mengalami keterlambatan dan perubahan jadwal.
AirNav Indonesia sempat menerbitkan pemberitahuan penutupan sementara Kualanamu pada Rabu, 2 September, pukul 10.50–12.45 WIB. Kondisi operasional bersifat dinamis karena bergantung pada pergerakan abu vulkanik dan keputusan keselamatan masing-masing maskapai. Calon penumpang perlu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.
Berbeda dengan penerbangan, KAI Divisi Regional I Sumatera Utara menyatakan operasional kereta api tetap normal. Pemeriksaan prasarana rel dan koordinasi dengan masinis dilakukan untuk mengantisipasi gangguan jarak pandang. KAI menyebut sebaran abu tidak mengenai stasiun maupun jalur operasional, sehingga 20 perjalanan kereta penumpang harian tetap berjalan ketika laporan disampaikan.
Masyarakat diminta tetap tenang, tidak mendekati zona bahaya, dan mengikuti informasi dari Badan Geologi, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah. Foto atau video lama yang beredar kembali juga perlu diperiksa agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru mengenai kondisi terbaru di sekitar Sinabung.






