GemaSumatra.com – Istilah dasarian kembali muncul dalam informasi prakiraan cuaca dan iklim yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG.
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 hari. Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian, yaitu Dasarian I pada tanggal 1–10, Dasarian II pada tanggal 11–20, dan Dasarian III pada tanggal 21 hingga akhir bulan.
Pembagian tersebut digunakan untuk memantau perkembangan curah hujan, sifat hujan, musim kemarau, musim hujan, dan potensi kekeringan secara lebih rinci dibandingkan data bulanan.
Memasuki Dasarian II Juli 2026, BMKG memprakirakan curah hujan kategori rendah mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Sebanyak 92,64 persen wilayah Indonesia diprakirakan menerima curah hujan kategori rendah. Sekitar 7,32 persen diprediksi berada pada kategori menengah dan 0,04 persen berada pada kategori tinggi.
Curah hujan rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian diprakirakan terjadi di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
BMKG juga memprakirakan sekitar 88,36 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan bawah normal. Sifat hujan menunjukkan perbandingan jumlah hujan dengan rata-rata klimatologis suatu wilayah.
Curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal merupakan dua indikator berbeda. Curah hujan rendah menunjukkan jumlah hujan, sedangkan sifat hujan bawah normal menunjukkan bahwa jumlah tersebut berada di bawah rata-rata wilayah pada periode yang sama.
Bagi masyarakat di Sumatra, kondisi ini perlu diperhatikan karena berhubungan dengan ketersediaan air, kegiatan pertanian, dan potensi kebakaran lahan. Namun, prakiraan nasional tidak berarti seluruh daerah akan mengalami kondisi yang sama.
Hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer harian. Masyarakat tetap disarankan memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG untuk masing-masing kabupaten atau kota.






