BANDA ACEH – Masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra masih perlu mewaspadai hujan lebat dan angin kencang meski sebagian besar Indonesia tengah memasuki kondisi kemarau yang semakin kering akibat menguatnya El Niño.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat termasuk wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas lebat pada periode 14–16 Agustus 2026. Aceh juga masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang.
Pada Minggu, 16 Agustus 2026, BMKG bahkan mengeluarkan pembaruan peringatan dini cuaca untuk sejumlah kabupaten di Aceh. Hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang terpantau berpotensi terjadi di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut terlihat bertolak belakang dengan perkembangan iklim secara umum yang semakin kering.
BMKG menjelaskan atmosfer Indonesia saat ini dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat serta kecenderungan Indian Ocean Dipole positif. Dua kondisi tersebut mengurangi suplai uap air dan membuat atmosfer secara umum menjadi lebih kering.
Sebanyak 76,5 persen Zona Musim di Indonesia atau 535 ZOM telah memasuki musim kemarau. Pada dasarian pertama Agustus 2026, sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia juga mencatat curah hujan dalam kategori rendah.
Namun, kondisi kemarau tidak berarti seluruh wilayah akan bebas dari hujan.
BMKG menjelaskan aktivitas Madden-Julian Oscillation dan Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di sebagian besar Sumatra. Dinamika tersebut dapat membantu pembentukan awan hujan apabila didukung kondisi atmosfer lokal.
Karena itu, Sumatra dapat menghadapi dua risiko cuaca dalam periode yang berdekatan. Pada satu sisi terdapat ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Pada sisi lain, hujan lokal dengan intensitas tinggi, petir dan angin kencang tetap mungkin muncul.
Untuk periode 17–20 Agustus 2026, BMKG masih menempatkan Sumatera Barat sebagai wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan lebat. Potensi angin kencang di Aceh juga masih disebut dalam prakiraan tersebut.
Masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan api. Saat cuaca buruk terjadi, warga juga perlu mewaspadai pohon tumbang, reklame roboh, genangan dan sambaran petir.
Kondisi cuaca yang cepat berubah membuat prakiraan harian dan peringatan dini menjadi lebih relevan dibanding hanya berpatokan pada status musim kemarau.






