Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner
Opini  

Aceh dan Batas Daya Dukung Bumi: Refleksi Geologi dari Banjir dan Longsor November 2025

Banjir dan longsor adalah ekspresi sistem bumi yang kehilangan keseimbangan

Korban banjir Sumatra 11 Desember 2025
Korban banjir Sumatra 11 Desember 2025

Oleh: Lia Fitria Rahmatillah (Dosen Teknik Geologi, USK)

OPINI – November 2025 menjadi pengingat pilu kembali bagi masyarakat selain Tsunami Aceh yang pernah terjadi pada Desember 2004 dalam Sejarah kebencanaan Provinsi Aceh. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh bukan sekadar peristiwa akibat hujan deras musiman.

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kawasan hulu Pegunungan Bukit Barisan di Aceh Tengah dan Bener Meriah hingga dataran rendah Aceh Utara dan Aceh Tamiang memicu rangkaian longsor dan bajir bandang di sejumlah kabupaten, namun skala dan dampakanya menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar: sistem geologi dan lingkungan yang sedang berada di ambang batas daya dukungnya.

Sungai meluap, lereng longsor, dan ribuan warga terdampak. Rangkaian peristiwa ini adalah cerminan bagaimana sistem geologi aceh bekerja dan bagaimana batas daya dukungnya diuji.

Secara geologi, Aceh terletak di zona tektonik aktif yang dikontrol oleh Sesar Sumatra (Great Sumatran Fault) yang membentuk punggung Pegunungan Bukit Barisan.

Implikasi struktur geologi ini di Aceh menciptakan karakteristik fisik berupa morfologi lereng terjal dengan lembah sempit dan sungai pendek dengan gradien tinggi.

Sehingga, kombinasi karakteristik tersebut memungkinkan Aceh secara alami memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi akibat saat air hujan mengalir dengan sangat cepat ke lembah tanpa terjadi resapan, maka secara alami memiliki respon hidrologi cepat terhadap hujan lebat.

Meskipun kerentanan bukanlah takdir mutlak, namun akan menjadi bencanan ketika proses alam bertemu dengan kondisi lingkungan yang tidak lagi seimbang.

Geologi Aceh: Fondasi Kerentanan Alamiah

Secara geotektonik, daerah Aceh merupakan bagian dari busur tektonik Sumatra yang terbentuk akibat pergerakan lempeng Indo-Australia ke arah utara dan menunjam di bawah lempeng Eurasia dengan pergerakan relatif ke arah Utara-Timur Laut terhadap busur di Pulau Jawa.

Namun, dalam perkembangannya arah pergerakan lempeng berubah menjadi miring (oblique) di Pulau Sumatra sehingga mengakibatkan terbentukanya sesar mendatar di Pulau Sumatra yang dikenal sebagai Sesar Besar Sumatra.

Baca Juga:  Pria Pakai Celana Pendek Terjaring Razia di Banda Aceh

Selain itu, pergerakan lempeng miring tersebut juga terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan. Pengangkatan bukit barisan menghasilkan kelerengan yang curam. Akibatnya, air hujan tidak meresap ke dalam tanah, namun langsung menjadi aliran permukaan (run-off).

Karakteristik lainnya yang muncul akibat keberadaan sesar Sumatra adalah sesar Sumatra membentuk sungai dengan profil memanjang yang sempit dan curam. Hal ini memicu kecepatan aliran air yang sangat tinggi dari hulu menuju hilir.

Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, maka karakteristik geologi seperti jarak sungai yang pendek dan kemiringan tinggi maka waktu yang dibutuhkan air dari hulu mencapai hilir sangat cepat. Dampak lanjutan yang dapat terjadi berdasarkan topografi dengan karakteristik seperti ini maka dapat memicu fenomena tanah longsor di aera hulu akibat ketidakstabilan lereng.

Geotektonik aceh dapat menimbulkan sistem daerah aliran Sungai (DAS) yang impulsif. Karakteristik geologi menyebabkan respon hidrologis terhdap hujan tinggi terjadi sangat cepat dan destruktif.

Kondisi litologi Aceh juga memperkuat karakter tersebut. Banyak wilayah pegunungan tersusun oleh batuan vulkanik dan sedimen yang telah mengalami pelapukan tropis intensif. Pelapukan ini menghasilkan tanah tebal yang pada kondisi kering relatif stabil, tetapi menjadi rentan ketika jenuh air.

Ketika hujan ekstrem terjadi dalam durasi panjang, infiltrasi meningkatkan tekanan air pori di dalam tanah. Kekuatan geser tanah menurun, dan pada titik tertentu lereng kehilangan stabilitasnya. Longsor yang terjadi bukan fenomena tiba-tiba tanpa sebab, melainkan konsekuensi mekanis dari sistem yang melampaui ambang keseimbangannya.

Material longsoran yang masuk ke sungai memperbesar muatan sedimen dan mengubah karakter aliran menjadi lebih destruktif. Di hulu, aliran dapat berkembang menjadi banjir bandang bercampur material rombakan. Di hilir, sungai yang tidak mampu menampung debit besar akan meluap.

Dinamika DAS dan Batas Daya Dukung

Secara geomorfologi, sungai Krueng Aceh yang berada di Aceh Besar dan Banda Aceh dan sungai Krueng Peusangan yang melintasi Bener Meriah, Aceh Tengah, dan bermuara di Bireun memiliki karakteristik yaitu bagian hilir merupakan daerah dataran alluvial yang berfungsi sebagai zona deposisi dan limpasan alami. Zona deposisi dan dataran alluvial di bagian hilir Krueng Aceh dan Peusangan memiliki kemiringan landai.

Baca Juga:  Gempa M4,2 Guncang Tenggara Sinabang, Aceh, Pagi Buta

Sehingga, kecepatan arus air yang melewati daerah ini melambat. Akibatnya, dapat memicu pengendapan material sedimen yang ditransportasikan dari hulu menuju hilir membentuk dataran alluvial yang subur namun rentan terhadap genangan.

Kawasan di sekitar sungai yang secara periodik tergenang air disebut dataran banjir. Secara alamai, Saat debit sungai meningkat maka daerah ini akan tergenang air.

Namun, ironisnya di Aceh dalam konteks sosial-ekonomi modern, dataran ini telah berkembang menjadi kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi. Ketika debit meningkat secara drastis, dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Dalam perspektif geologi lingkungan, daya dukung suatu daerah aliran sungai (DAS) ditentukan oleh keseimbangan antara curah hujan, kapasitas infiltrasi tanah, tutupan vegetasi, dan kapasitas sungai. Jika salah satu komponen melemah, respons sistem menjadi lebih ekstrem.

Pengurangan tutupan vegetasi di hulu, misalnya, meningkatkan limpasan permukaan (runoff) dan mempercepat aliran menuju sungai. Erosi meningkat, sedimentasi bertambah, dan kapasitas sungai berkurang secara bertahap. Proses ini bersifat kumulatif dan sering tidak disadari hingga terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Seperti hal nya yang terjadi di Provinsi Aceh pada November 2025. Banjir bandang yang terjadi di beberapa kabupaten terlihat ikut serta mengangkut gelondongan kayu. Maka muncul beberapa pertanyaan dalam pikiran masyarakat.

Dari manakah kayu ini berasal? Apa mungkin kayu gelondongan ini roboh alami saat banjir? Tentunya kayu-kayu tersebut berasal dari hutan di hulu. Berdasarkan data Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) menunjukkan hutan Aceh mengalami deforestasi signifikan selama satu dekade terakhir. Luas hutan yang hilang mencapai 90.108 hektar.

Menurut Ibnu Rusydy (ahli bencana dan dosen di USK) bahwa antara hutan, siklus air, dan bencana alam saling berkaitan. Alih fungsi hutan dapat mengganggu sistem hidrologi. Tutupan vegetasi yang sudah berkurang signifikan dapat menghambat infiltrasi air hujan ke dalam tanah melalui akar pohon.

Baca Juga:  Mualem Targetkan 80% Suara di Pidie untuk Pilkada 2024

Akibatnya air hujan akan mengalir di permukaan dan meningkatkan pengikisan tanah di lereng, serta membawa sedimen ke sungai sehingga sungai mengalami pendangkalan. Ketika kondisi sungai sudah dangkal dan hujan turun dengan intensitas tinggi, maka air akan meluap dan terjadi banjir.

Pada November 2025, kombinasi antara hujan ekstrem dan sistem DAS yang sensitif menghasilkan respons non-linear: sedikit peningkatan tekanan menghasilkan dampak yang sangat besar.

Dalam jurnal dengan judul Increased Nonstationarity of Stormflow Threshold Behaviors in a Forested Watershed Due to Abrupt Earthquake Disturbance terbitan tahun 2023, kondisi seperti inilah yang disebut sebagai fenomena ambang batas (threshold) dalam sistem geomorfik.

Peran Perencanaan dan AMDAL

Wilayah Aceh mempunyai kondisi geologi yang kompleks, sehingga setiap perencanaan Pembangunan seharusnya mempertimbangkan kondisi karakteristik geologi seperti jenis litologi, keberadaan sesar, stabilitas lereng, kapasitas sungai dan bencana alam seperti banjir, tsunami, erupsi gunungapi dan lainnya.

Instrumen seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dirancang untuk memastikan bahwa dampak penting terhadap lingkungan, termasuk aspek geologi dan kebencanaan, telah dikaji secara komprehensif.

Tanpa evaluasi AMDAL banyak kerugian lingkungan dan harta benda yang dirasakan oleh Masyarakat. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh, akibat banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 diperkiran telah hilang sejumlah 22 desa dan dusun di 7 kabupaten yang terdampak di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Pidie Jaya.

Penutup

Aceh dan batas daya dukung bumi bukanlah dua entitas yang terpisah. Keduanya saling terhubung dalam sistem yang utuh dan dinamis. Memahami karakter geologi wilayah berarti memahami bagaimana risiko terbentuk dan bagaimana factor penyebab resiko dapat diminimalkan.

Pelajaran dari November 2025 adalah pentingnya membangun dengan membaca logika bumi: memulihkan alih fungsi hulu, menjaga stabilitas lereng, menghindari Pembangunan di kawasan beresiko bencana serta menjadikan kajian geologi sebagai dasar dalam perencanaan ruang.

Karena pada akhirnya, geologi tidak pernah bernegosiasi. Ia hanya bekerja sesuai hukum alamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *