PEKANBARU, Jumat, 17 April 2026, 10.33 WIB — Peringatan nasional soal potensi kebakaran hutan dan lahan pada kemarau 2026 punya arti langsung bagi pembaca Sumatra. BMKG menilai musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dan lebih panjang dari normal, sementara BNPB mencatat kebakaran di Riau sudah meluas menjadi 3.456 hektare.
BMKG menyatakan penguatan mitigasi lintas sektor perlu dilakukan sejak awal karena pada semester kedua 2026 peluang berkembang ke El Nino lemah hingga moderat berada di kisaran 50–80 persen. Di saat yang sama, jumlah hotspot nasional hingga awal April tercatat lebih dari 1.600 titik. Bagi Sumatra, rincian BMKG paling penting adalah proyeksi kenaikan risiko karhutla mulai muncul di Riau pada Juni, lalu meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan pada Juli hingga Agustus.
Data terbaru BNPB menunjukkan ancaman itu bukan semata proyeksi. Di Riau, luas karhutla yang terkonfirmasi telah mencapai 3.456 hektare dan tersebar di Kabupaten Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, serta Indragiri Hilir. Status siaga darurat di provinsi itu juga masih berlaku hingga 30 November 2026 untuk mempercepat koordinasi penanganan di lapangan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, potensi El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 menjadi alasan kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Dalam keterangan lain, BMKG juga menyebut, “Potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan.”
Bagi warga Sumatra, dampaknya tidak hanya kebakaran lahan. Karhutla biasanya berimbas pada kualitas udara, kesehatan kelompok rentan, gangguan sekolah, distribusi logistik, serta aktivitas kebun dan transportasi di wilayah tertentu. Pelaku usaha perkebunan, petani lahan gambut, dan masyarakat sekitar kawasan rawan perlu membaca peringatan ini sebagai sinyal untuk memperkuat patroli, menjaga tinggi muka air lahan gambut, dan menghindari pembakaran terbuka.
BMKG menyebut langkah preventif terus diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca dan pembasahan lahan di wilayah gambut ketika muka air tanah mulai turun. Namun pengalaman sebelumnya menunjukkan keberhasilan penanganan tetap bergantung pada kecepatan pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat bekerja sebelum api meluas. Karena itu, wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan perlu menyiapkan mitigasi lebih dini, bukan menunggu puncak kemarau.
Apa berikutnya bagi warga ialah memantau status siaga daerah, peringatan hotspot, dan kualitas udara harian, terutama mulai Mei hingga Agustus. Pembaca di Riau, Jambi, dan Sumsel perlu menaruh perhatian lebih besar karena nama provinsi-provinsi itu disebut langsung dalam proyeksi peningkatan risiko 2026.






