JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperbarui jumlah korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi 100 orang.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa peningkatan jumlah korban terjadi setelah sejumlah warga yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan tidak dapat diselamatkan.
Data terbaru juga mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka.
Sementara jumlah warga yang bertahan di lokasi pengungsian telah mencapai 180.327 jiwa.
Pembaruan tersebut menunjukkan besarnya dampak gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Pendataan korban terus berubah seiring penanganan pasien, verifikasi lapangan, dan pemutakhiran data dari wilayah terdampak.
Aktivitas gempa susulan masih menjadi perhatian masyarakat.
BNPB menggunakan data BMKG yang mencatat sebanyak 6.409 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB pada hari kedelapan setelah gempa utama.
Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2 dan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Sebanyak 33 gempa susulan memiliki magnitudo 5,0 atau lebih. Dari seluruh aktivitas yang tercatat, 139 kejadian dilaporkan dirasakan masyarakat.
Pemerintah memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama beberapa pekan, meskipun kecenderungannya terus menurun.
BNPB juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap informasi yang tidak dapat diverifikasi, termasuk isu mengenai tsunami susulan.
Warga diminta menggunakan informasi BMKG dan lembaga resmi sebagai rujukan untuk menentukan langkah keselamatan.
Ketakutan terhadap gempa susulan dan informasi yang tidak benar membuat sebagian masyarakat memilih membangun lokasi pengungsian mandiri, termasuk di wilayah yang relatif sulit dijangkau.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas dalam mendistribusikan logistik dan kebutuhan dasar.
Pemerintah menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga distribusi dengan berjalan kaki untuk menjangkau sebagian lokasi tersebut.
Di sisi lain, pemulihan layanan dasar terus berlangsung. BNPB melaporkan kelistrikan dan jaringan komunikasi di sebagian besar Pulau Flores telah kembali berfungsi, sementara akses jalan yang sebelumnya terganggu longsor telah dapat dilalui secara fungsional.






