JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada periode 25–31 Agustus 2026.
BMKG mencatat musim kemarau telah meluas hingga mencakup sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 zona musim.
Sebagian besar kawasan tersebut mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal.
Kondisi kering dipengaruhi antara lain oleh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif yang masih memengaruhi pola atmosfer Indonesia.
Berkurangnya hujan meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah.
Pemantauan satelit Himawari-9 pada 23 Agustus menunjukkan 299 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Sumatra. Kalimantan tercatat memiliki 383 titik, sedangkan Papua dan Maluku mencapai 186 titik.
Sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah provinsi di Sumatra, termasuk Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa kondisi kemarau tidak berarti hujan sama sekali tidak terjadi.
Potensi hujan lokal masih terdapat di sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian utara hingga tengah.
Pada periode 20–23 Agustus, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat mencapai 125 milimeter per hari di Sumatera Barat, 97 milimeter per hari di Sumatera Utara, dan 88 milimeter per hari di Aceh.
Fenomena tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal, termasuk aktivitas gelombang atmosfer, pertemuan angin serta suhu muka laut di sekitar Sumatra.
Kondisi ini membuat masyarakat dapat menghadapi dua risiko berbeda dalam periode yang berdekatan, yakni kekeringan dan karhutla di satu daerah serta hujan lebat lokal di daerah lainnya.
BMKG memperkirakan kondisi atmosfer selama sepekan tetap cenderung kering. Namun hujan dengan intensitas bervariasi masih dapat muncul secara lokal dan sporadis.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran terbuka dan memantau prakiraan serta peringatan dini terbaru karena kondisi cuaca dapat berbeda antarwilayah.
Informasi cuaca lokal menjadi penting terutama bagi kegiatan pertanian, perjalanan, penanganan kebakaran serta aktivitas masyarakat di kawasan rawan bencana hidrometeorologi.






