BANDA ACEH, Sabtu, 18 April 2026, 20.10 WIB — Workshop Architecture Acceleration Workshop (AAW) dalam rangkaian DR3 Aceh 2026 berlangsung hari ini di Aceh 1 Ballroom, Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, dengan menghadirkan pembicara dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia untuk membahas arsitektur, pengurangan risiko bencana, ketahanan, dan pemulihan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari International Conference on Natural & Human Disasters 2026 yang digelar 17–19 April 2026 di Banda Aceh.
Penyelenggaranya adalah International Union of Architects (UIA) Natural and Human Disasters Work Programme, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan ARCASIA Emergency Architects, dengan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Bagi Aceh, forum ini relevan karena menempatkan pengalaman daerah pascatsunami sebagai ruang belajar bagi praktik arsitektur tangguh bencana.
Workshop hari ini dibagi ke dalam dua tema besar. Sesi pagi mengangkat perspektif lokal di Indonesia dengan pembicara antara lain Ramadhoni Dwi Payana, Mohammad Cahyo Novianto, Andy Rahman, Ikhsan Hamiru, Denny Setiawan, Arief Isrefidianto, Novriansyah Yakub, dan Antonius Richard Rusli.
Sesi sore berfokus pada perspektif global dengan menghadirkan Hadee Hamidong, Nada Inthaphunt, Izziah dari Universitas Syiah Kuala, serta sesi rangkuman dan diskusi bersama jaringan arsitek Malaysia dan Aimee Roslan. Workshop ini menempatkan lima sesi untuk menjembatani praktik desain, ketahanan, dan peluang profesional lintas negara.
Sehari sebelumnya, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya peran arsitektur dalam mitigasi bencana. Ia mengatakan, “Arsitektur kini bertransformasi dari seni merancang menjadi ilmu tentang keberlangsungan hidup.”
Dalam forum yang sama, Executive Chair dan Convenor UIA NHDWP Region IV, Aimee Roslan, menilai Banda Aceh layak menjadi tuan rumah karena merupakan contoh nyata ketangguhan dan pembelajaran pascabencana.
Bagi warga dan kalangan profesi di Aceh, workshop ini tidak semata forum diskusi akademik. Dokumen penyelenggara menyebut sasaran peserta mencakup arsitek, akademisi, perencana, pembuat kebijakan, hingga pegiat pengurangan risiko bencana.
Artinya, hasil pembahasan hari ini dapat langsung terkait dengan kebutuhan lokal, mulai dari rancangan ruang aman, kesiapsiagaan komunitas, sampai penguatan praktik profesional yang lebih peka terhadap ancaman bencana di wilayah pesisir dan perkotaan Aceh.
Latar belakang penyelenggaraan DR3 Aceh 2026 juga kuat. UIA menegaskan Banda Aceh dipilih karena kota ini berada di titik penting memori bencana Samudra Hindia 2004 dan dipandang sebagai living classroom untuk ketahanan dan pemulihan.
Forum ini sekaligus disebut sebagai agenda UIA pertama yang digelar di Indonesia, sehingga memberi bobot tersendiri bagi posisi Aceh dalam percakapan global tentang arsitektur kemanusiaan dan pembangunan yang lebih siap menghadapi risiko.
Agenda berikutnya, peserta workshop dijadwalkan menuntaskan keluaran sesi dan tugas studi kasus sebagaimana dirancang panitia, sementara rangkaian DR3 Aceh 2026 berlanjut pada Minggu, 19 April 2026, dengan sesi meja bundar Rebuilding Gaza, presentasi paralel, dan pleno lanjutan.
Ini menunjukkan bahwa workshop hari ini bukan acara berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan pengalaman lokal Aceh dengan jejaring profesi internasional.






