Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Nyaris 3.777 Hektare Sawah Jambi Terdampak Kemarau, 53 Hektare Puso

Dari 7.659,73 hektare sawah yang dilaporkan di Jambi, sekitar 3.776,83 hektare terdampak kemarau dan 53 hektare sudah masuk kategori puso.

Lahan sawah dilindungi Sumatra (Ruyat Supriazi)
Lahan sawah dilindungi Sumatra (Ruyat Supriazi)

JAMBI — Kemarau yang berlangsung dalam dua bulan terakhir menekan lahan persawahan di Provinsi Jambi. Dari 7.659,73 hektare sawah yang dilaporkan pada periode tanam ini, sekitar 3.776,83 hektare mengalami kerusakan ringan hingga gagal panen. Sebanyak 53 hektare di antaranya telah masuk kategori puso.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi yang diberitakan ANTARA Jambi mencatat 1.851,18 hektare mengalami rusak ringan, 1.313,18 hektare rusak sedang, 559,47 hektare rusak berat, dan 53 hektare puso. Jika dijumlahkan, luas terdampak setara sekitar 49,3 persen dari total sawah yang masuk laporan tersebut.

Kerusakan tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Batang Hari mencatat puso terluas dengan total 23,25 hektare. Di Kecamatan Bathin XXIV saja, lahan yang dinyatakan gagal panen mencapai 11,5 hektare.

Baca Juga:  El Niño Kuat Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Sumatra Waspadai Karhutla

Tebo menjadi wilayah lain dengan dampak signifikan. Dari 458,75 hektare luas tanam yang dilaporkan, 16,75 hektare masuk kategori puso, sementara 57,50 hektare rusak berat. Muaro Jambi mencatat 10 hektare puso, Kota Jambi dua hektare, dan Sarolangun satu hektare.

Kerusakan tidak berhenti pada lahan yang sudah gagal panen. Ratusan hingga ribuan hektare lain masih berada pada kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Kondisi ini membuat perkembangan cuaca dan ketersediaan air pada pekan-pekan berikutnya menjadi penting bagi peluang pemulihan tanaman yang belum masuk kategori puso.

UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas TPHP Jambi menyebut kekeringan menjadi faktor utama kerusakan, dengan kondisi kemarau diperparah fenomena El Nino. Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya juga menyatakan musim kemarau 2026 berlangsung berat dan telah menetapkan status siaga bencana sejak Mei. Pemprov Jambi mencatat dampak kemarau turut terasa pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Baca Juga:  Gunung Kerinci Dipadati Pendaki Jelang Peringatan 17 Agustus

Dinas TPHP menyiapkan pompanisasi sebagai salah satu langkah penanganan di daerah terdampak. Namun, upaya tersebut hanya dapat dilakukan bila masih tersedia sumber air yang bisa dipompa menuju lahan pertanian. Pada wilayah dengan kekeringan ekstrem, keterbatasan pasokan air menjadi kendala utama.

Bagi petani, luas lahan yang sudah masuk kategori puso berarti tanaman tidak lagi dapat menghasilkan panen sesuai siklusnya. Sementara itu, lahan yang masih berada pada kategori rusak ringan hingga berat tetap membutuhkan penanganan agar kerusakan tidak berkembang menjadi gagal panen.

Baca Juga:  Investor Jambi Bertambah 36.480 di Awal 2026

Data tersebut merupakan rekapitulasi kondisi hingga akhir Agustus 2026. Karena kemarau masih berlangsung pada September, angka kerusakan dapat berubah setelah pembaruan laporan dari kabupaten dan kota masuk ke Dinas TPHP Provinsi Jambi.

Perkembangan berikutnya akan ditentukan oleh dua hal yang dapat diukur langsung: pembaruan luasan sawah terdampak pada September dan efektivitas pompanisasi di wilayah yang masih memiliki cadangan air. Kedua indikator itu akan menunjukkan apakah kerusakan dapat ditahan atau justru bertambah selama sisa musim kemarau.

Foto: Ilustrasi lahan sawah di Sumatra. Ruyat Supriazi/Pexels.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *