Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Gibran Jenguk Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo, 24 Masih Dirawat

Wapres Gibran menjenguk korban dugaan keracunan MBG di Karo. Data sementara menunjukkan 24 orang masih menjalani perawatan.

Keracunan MBG Karo
Keracunan MBG Karo

KARO — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjenguk siswa yang masih menjalani perawatan setelah dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat, 11 September 2026.

Gibran mendatangi Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan bertemu langsung dengan sejumlah siswa serta keluarga yang masih menjalani proses pemulihan.

Kunjungan tersebut sebelumnya telah masuk dalam agenda resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Wapres dijadwalkan mendatangi RS Efarina Etaham dan RS Amanda di Berastagi untuk melihat kondisi korban serta penanganan medis yang diberikan.

Dalam pertemuan dengan korban, Gibran menyampaikan permintaan maaf dan memastikan pemerintah bertanggung jawab terhadap penanganan siswa yang terdampak, termasuk biaya pengobatan. Ia juga meminta orang tua tidak terburu-buru mengizinkan anak kembali ke sekolah sebelum kondisi mereka benar-benar pulih.

Baca Juga:  UTMB Lake Toba di Samosir Dongkrak Pergerakan Wisata

Berdasarkan data sementara yang diberitakan pada Jumat sore, sebanyak 24 orang masih menjalani perawatan. Sebanyak 21 orang dirawat di RS Efarina Etaham Berastagi dan tiga orang lainnya berada di RS Amanda Berastagi.

Data tersebut bersifat sementara sehingga jumlah pasien dapat berubah mengikuti hasil pemeriksaan, kepulangan pasien, atau kebutuhan perawatan lanjutan. Sejumlah siswa yang terdampak sebelumnya telah mendapat penanganan medis setelah mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan konsumsi makanan program MBG.

Pemerintah daerah juga memberi perhatian pada pemulihan psikologis. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyebut penanganan mental menjadi salah satu fokus karena beberapa siswa mengalami trauma setelah kejadian tersebut.

Kasus di Karo menempatkan aspek keselamatan penerima manfaat kembali menjadi perhatian dalam pelaksanaan MBG. Penanganan korban tidak hanya berkaitan dengan layanan medis saat gejala muncul, tetapi juga pemantauan kondisi setelah pasien pulang dan memastikan siswa cukup sehat sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar.

Baca Juga:  Edy Rahmayadi, PDIP 'Diterkam' Bobby Nasution

Kunjungan Wapres berlangsung setelah Bobby meninjau korban dan menyampaikan bahwa sebagian siswa membutuhkan perhatian pada aspek trauma. Kondisi tersebut menunjukkan proses pemulihan tidak selalu selesai ketika gejala fisik mereda atau pasien diperbolehkan pulang.

Media melaporkan sebagian siswa sempat kembali membutuhkan perawatan karena kondisi kesehatan belum sepenuhnya stabil. Karena itu, arahan agar siswa tidak segera kembali ke sekolah menjadi bagian dari upaya memberi waktu pemulihan yang cukup.

Hingga Jumat, informasi yang dipublikasikan pemerintah daerah dan media masih menggunakan istilah dugaan keracunan MBG. Penyebab medis dan sumber kontaminasi karena itu tidak semestinya disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan dan evaluasi resmi diumumkan instansi berwenang.

Baca Juga:  Pelari Indonesia Dominasi Lari Gawang di Sumut

Pemerintah daerah juga belum merilis dalam keterangan yang sama hasil lengkap pemeriksaan makanan, laboratorium, maupun kesimpulan penyebab kejadian.

Bagi keluarga korban, kepastian pemulihan kesehatan menjadi kebutuhan paling dekat. Pemerintah menyatakan pengobatan akan ditanggung, sementara rumah sakit melanjutkan perawatan terhadap pasien yang belum dinyatakan pulih.

Perhatian berikutnya akan tertuju pada hasil evaluasi serta langkah koreksi di titik layanan MBG yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Informasi mengenai penyiapan makanan, distribusi, dan prosedur keamanan pangan perlu mengikuti keterangan resmi agar tidak mendahului hasil pemeriksaan.

Sampai Jumat sore, belum semua pasien meninggalkan rumah sakit. Pemerintah meminta siswa memprioritaskan pemulihan dan tidak memaksakan diri kembali ke sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *